vfVhymenUzKJZBtuc4xcn47AG410gaBoiC4BEUGo
Bookmark
Susu Kambing Etawa Bubuk

Aturan Minum Teh Kombucha yang Wajib Diketahui

Aturan Minum Teh Kombucha yang Wajib Diketahui

Beberapa tahun terakhir mulai sering terlihat sebuah minuman yang dahulu terasa asing namun sekarang hampir ada dimana-mana, yah sebut saja kombucha. Minuman kombucha ini ada di rak supermarket dan kafe biasanya diberi label yaitu probiotic boost, bahkan di skala bisnis rumahan atau dapur teman sudah ada pula minuman ini.

Kombucha sering dipromosikan sebagai minuman sehat seperti untuk pencernaan, meningkatkan imunitas, bahkan membantu pembersihan racun (detoks), namun setiap melihat tren ini selalu muncul sebuah pertanyaan yaitu:

“Apakah kita benar-benar memahami apa yang telah kita minum?”

Aku sebagai seseorang peneliti di bidang biologi selalu percaya satu hal yaitu sesuatu yang berasal dari proses alami bukan berati otomatis aman tanpa aturan pastinya harus ada standarisasi terlebih dahulu. Alam bekerja dengan prinsip keseimbangan kemudian hal tersebut bisa terganggu jika kita terlalu berlebihan, nah begitu pula dengan penggunaan kombucha ini.

A. Mengenal Kombucha Sebagai Secangkir Ekosistem Mikroba

Kalau kita melihat kombucha hanya sebagai minuman teh asam berkarbonasi ya pastinya akan melewatkan sebuah cerita biologis yang jauh lebih menarik. Kombucha merupakan hasil fermentasi teh yaitu biasanya teh hijau atau teh hitam yang ditambahkan gula, kemudian diinokulasi dengansymbiotic culture of bacteria and yeast(SCOBY). SCOBY ini bukan jamur aneh yang mengapung di atas cairan, namun sebuah komunitas hidup yang mana di dalamnya terdapat sebuah ragi dan bakteri asam asetat yang bekerja sama dalam sistem stabil (homeostasis).

Ragi dapat mengubah gula menjadi alkohol kemudian bakteri mengubah alkohol menjadi asam organik yang membentuk asam asetat, asam glukonat, sedikit asam laktat, vitamin spesifik, dan senyawa antioksidan dari teh yang telah ikut termodifikasi selama terjadi proses fermentasi. Secara ilmiah proses ini adalah contoh bagaimana mikroorganisme membangun keseimbangan metabolik dan sekaligus alasan mengapa kita perlu memahami batasnya.

B. Mengapa Kombucha Dianggap Sehat?

Ada beberapa alasan mengapa kombucha mendapatkan sebuah reputasi sebagai minuman baik bagi tubuh yaitu mengandung senyawa antioksidan dari teh, asam organik yang punya aktivitas antimikroba, dan ada mikroorganisme hidup. Namun disinilah penting banget kita harus bersikap dewasa secara ilmiah, sebagian besar riset tentang manfaat kombucha itu masih berada di level laboratorium (in vitro), hewan, observasi komposisi mikroba, dan bukti klinis pada manusia masih terbatas. Meskipun demikian kombucha itu punya potensi tetapi dia bukan obat ajaib, agen terapi medis, dan pengganti pengobatan, jadi sudah tau kan disinilah sering terjadi kesalahpahaman.

C. Bagaimana Aturan Minum Kombucha Yang Tepat?

Ada beberapa pertanyaan seperti berikut ini:

  • Kalau sehat boleh diminum setiap hari dong?
  • Boleh nggak satu botol penuh langsung?
  • Semakin banyak semakin bagus kan?

Jawabannya tidak sesederhana itu mari kita bahas dengan tenang. Kalau kamu baru pertama kali minum kombucha jangan langsung satu botol. Ingat tubuh bukan mesin yang bisa langsung menyesuaikan diri terhadap perubahan komposisi mikroba dan asam organik dalam satu waktu.Mulailah dengan sekitar 50-100 ml per hari kemudian lihat respons tubuh selama beberapa hari kenapa ini penting? karena kombucha mengandung asam organik yang bisa mempengaruhi lambung, sedikit alkohol hasil fermentasi, dan mikroorganisme hidup. Beberapa orang mungkin merasakan kembung ringan, perubahan pola buang air, dan sensasi asam di lambung. Itu bukan berarti kombucha jahat, itu berarti tubuh sedang beradaptasi dan adaptasi butuh waktu.

Orang dewasa sehat konsumsi sekitar 100-250 ml per hari sudah lebih dari cukup, tidak ada manfaat tambahan yang terbukti jika kamu minum satu liter sehari, justru konsumsi berlebihan bisa meningkatkan paparan asam, asupan gula residu, dan risiko gangguan lambung. Dalam biologi prinsipnya selalu sama homeostasis, tubuh bekerja menjaga keseimbangan jika kita memaksakan sesuatu secara berlebihan sistem akan memberi sinyal, dan sinyal itu sering kali berupa ketidaknyamanan.

Ini bagian yang sering diabaikan karena jarang terdengar dalam promosi, kombucha tidak selalu cocok untuk ibu hamil, orang dengan sistem imun lemah, penderita gangguan hati, individu dengan gastritis berat, dan orang yang sangat sensitif terhadap makanan asam. Hal tersebut terjadi karena meskipun fermentasi menghasilkan lingkungan asam yang relatif aman, kombucha tetaplah produk dengan mikroba hidup. Pada individu dengan sistem imun yang terganggu, risiko infeksi oportunistik meskipun jarang tetap ada jika produk tidak diproduksi dengan higienis. Nah sebagai biologist aku selalu lebih memilih sikap hati-hati daripada gegabah.

Hati-hati sih dengan kombucha rumahan, aku tidak anti fermentasi rumahan justru menyukai prosesnya, fermentasi itu mengajarkan sebuah kesabaran, kontrol lingkungan, dan paham bahwa mikroba butuh kondisi yang tepat. Namun fermentasi rumahan juga punya risiko jika wadah tidak steril, air terkontaminasi, fermentasi terlalu lama, dan terjadi kontaminasi jamur liar. Kombucha yang terlalu lama difermaentasi bisa menjadi sangat asam. Kalau terlalu asam dapat memicu iritasi lambung, merusak enamel gigi, dan tidak nyaman dikonsumsi, btwfermentasi adalah seni sekaligus sains keduanya membutuhkan ketelitian.

Aku sering melihat orang mengganti minuman sehari-hari dengan kombucha, ini keliru alias keblinger sih karena kombucha bukan minuman hidrasi utama, ia bukan air mineral sedangkan tubuh kita tetap membutuhkan air putih sebagai sumber hidrasi netral tanpa asam dan tanpa gula. Nah kombucha ini seharusnya dianggap sebagai pelengkap bukan fondasi, fondasi kesehatan itu tetaplah sama seperti pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur cukup, dan manajemen stres.

Hmm tentang detoks yuk kita luruskan, istilah detoks itu sangat populer namun secara fisiologis tubuh kita sudah memiliki sistem detoksifikasi yang luar biasa canggih yaitu hati memetabolisme zat asing, ginjal menyaring darah, paru-paru membuang karbon dioksida, dan sistem limfatik memantu pembuangan limbah seluler. Tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa kombucha bisa membersihkan racun secara ajaib, namun yang lebih realistis adalah kombuca mungkin mendukung keseimbangan mirkobiota, menyediakan antioksidan, dan menjadi bagian dari pola hidup sehat.

Kita harus mendengarkan tubuh meski ini mungkin sederhana namun sering diabaikan, jika setelah minum kombucha merasakan nyeri perut, mual, reaksi alergi, dan gangguan pencernaan berat maka berhentilah karena tubuh kita punya sistem komunikasi yang sangat jujur. Kesehatan bukan  tentang mengikuti tren tapi memahami respon biologis diri sendiri.

D. Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Kombucha?

Aku selalu melihat fermentasi bukan hanya sebagai proses kimia tetapi sebagai metafora kehidupan,lihatlah kedalam SCOBY disana ada bakteri dan ragi yang tidak saling menghancurkan, karena mereka bekerja sama untuk membentuk sebuah keseimbangan dalam sistem (homeostasis), mereka menciptakan lingkungan stabil yang menguntungkan keduanya. Ekosistem kecil itu mengingatkan kita pada mikrobiota usus manusia yang dihuni triliunan mikroorganisme. Ketika seimbang mereka mendukung kesehatan namun saat keseimbangan terganggu dampaknya bisa berkelanjutan. Kombucha dalam takaran wajar bisa menjadi simbol hubungan harmonis manusia dan mikroba, tapi seperti semua hubungan yaitu harmoni membutuhkan batas.

Aturan minum teh kombucha yang wajib diketahui sebenarnya sederhana yaitu terdiri atas mulai dari jumlah kecil, batasi konsumsi harian, perhatikan kondisi kesehatan pribadi, pastikan higienitas produk, jangan jadikan pengganti air putih, dan dengarkan respn tubuh. Kombucha bukan musuh dan pahlawan super melainkan ia hasil kerja mikroorganisme dalam prinsip keseimbangan, sebagai peneliti biologi kita diajak terjebak dalam euforia tren tetapi memahami mekanisme di baliknya dan mungkin dari segelas kombucha dapat mengetahui suatu hal yang penting yaitu kesehatan bukan sesuatu yang instan melainkan hasil kebiasaan kecil konsisten dan sadar. Kalau sudah sadar pasti selalu lebih kuat daripada sekadar mengikuti suatu tren.

Tanya-tanya? DM ke IG @violthebiologist

Penulis

Viol Dhea Kharisma

Viol Dhea Kharisma, S.Si., M.Si

(Content Creator & Peneliti Biologi)

Follow Instagram @violthebiologist

Follow Facebook Viol The Biologist

Bahan Bacaan:

Greenwalt, C. J., Steinkraus, K. H., & Ledford, R. A. (2000).Kombucha, the fermented tea: microbiology, composition, and claimed health effects. Journal of Food Protection, 63(7), 976–981.

Jayabalan, R., Malbaša, R. V., Lončar, E. S., Vitas, J. S., & Sathishkumar, M. (2014). A review on kombucha tea—microbiology, composition, fermentation, beneficial effects, toxicity, and tea fungus. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety, 13(4), 538–550.

Kapp, J. M., & Sumner, W. (2019). Kombucha: a systematic review of the empirical evidence of human health benefit. Annals of Epidemiology, 30, 66–70.

Leal, J. M., Suárez, L. V., Jayabalan, R., Oros, J. H., & Escalante-Aburto, A. (2018). A review on health benefits of kombucha nutritional compounds and metabolites. Food Research International, 105, 161–168.

Marsh, A. J., O’Sullivan, O., Hill, C., Ross, R. P., & Cotter, P. D. (2014). Sequence-based analysis of the bacterial and fungal compositions of multiple kombucha (tea fungus) samples. Food Microbiology, 38, 171–178.

Villarreal-Soto, S. A., Beaufort, S., Bouajila, J., Souchard, J. P., & Taillandier, P. (2018). Understanding kombucha tea fermentation: A review. Journal of Food Science, 83(3), 580–588.