vfVhymenUzKJZBtuc4xcn47AG410gaBoiC4BEUGo
Bookmark

Mengapa Primbon Digunakan oleh Sunan Gresik Sebagai Media Islamisasi?

Mengapa Primbon Digunakan oleh Sunan Gresik Sebagai Media Islamisasi

Berikut ini alasan mengapa primbon digunakan oleh Sunan Gresik sebagai media islamisasi dari https://primbonjawa.idIslamisasi di Nusantara tidak terjadi secara instan atau melalui paksaan, melainkan melalui proses akulturasi budaya yang sangat halus dan cerdas. Salah satu tokoh penting dalam proses tersebut adalah Sunan Gresik, juga dikenal sebagai Maulana Malik Ibrahim, yang merupakan salah satu dari Wali Songo. Ia dikenal sebagai pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Gresik, Jawa Timur. Salah satu strategi dakwahnya yang terkenal adalah memanfaatkan primbon atau sistem pengetahuan lokal sebagai sarana untuk memperkenalkan dan menyebarkan ajaran Islam.

Mengapa primbon dipilih? Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai alasan-alasan strategis, kultural, dan religius di balik penggunaan primbon oleh Sunan Gresik sebagai media dakwah Islam.

1. Primbon Sudah Mendarah Daging dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Jawa sudah memiliki sistem kepercayaan dan pengetahuan lokal yang dikenal sebagai primbon. Primbon mengatur hampir seluruh aspek kehidupan: kelahiran, pernikahan, kematian, pertanian, peramalan, dan hubungan manusia dengan alam serta leluhur. Sistem ini tidak hanya dipercaya, tapi dijadikan pedoman hidup sehari-hari.

Sebagai tokoh dakwah yang bijaksana, Sunan Gresik tidak serta-merta menolak atau melawan tradisi ini, melainkan mengadaptasinya untuk menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam struktur pemikiran masyarakat lokal. Dengan kata lain, primbon dijadikan “wadah budaya” untuk memperkenalkan ajaran baru, bukan dilawan sebagai musuh.

2. Strategi Dakwah Kultural: Masuk Tanpa Merusak

Dalam konteks dakwah Wali Songo, terutama Sunan Gresik, dikenal istilah "memasukkan isi tanpa memecahkan tempurung." Maksudnya adalah menyebarkan Islam tanpa harus menghancurkan budaya asli masyarakat. Strategi ini disebut kulturalisasi atau indigenisasi ajaran agama.

Dengan menggunakan primbon yang sudah dikenal dan dipercaya, Sunan Gresik tidak menimbulkan penolakan sosial, karena masyarakat tetap merasa bahwa nilai-nilai budaya mereka tetap dihormati. Secara perlahan, substansi ajaran Hindu-Buddha digantikan dengan nilai-nilai Islam, meskipun masih menggunakan istilah atau kerangka primbon yang familiar.

3. Transformasi Nilai: Dari Mistisisme Menuju Monoteisme

Transformasi Nilai Dari Mistisisme Menuju Monoteisme

Banyak isi primbon mengandung unsur mistik dan kepercayaan kepada roh leluhur atau kekuatan alam. Sunan Gresik menggeser orientasi spiritual ini ke arah tauhid (keesaan Allah), tanpa langsung membatalkan praktik-praktik adat. Misalnya:

  • Hari baik dan buruk masih diajarkan, tapi dikaitkan dengan doa dan niat yang lurus kepada Allah.
  • Ritual selamatan tetap dilakukan, tapi diganti dengan doa tahlil dan pembacaan Al-Qur’an.
  • Mantra-mantra dalam primbon diubah menjadi doa dalam bahasa Arab yang sesuai dengan syariat.
  • Dengan cara ini, masyarakat tidak merasa tercerabut dari budayanya, namun secara spiritual sudah mulai mengarah ke keyakinan Islam yang monoteistik.

4. Pendekatan Bahasa dan Simbol yang Familiar

Primbon menggunakan bahasa simbolik yang akrab bagi masyarakat Jawa, seperti weton, neptu, hari pasaran, angka gaib, dan arah mata angin. Sunan Gresik memanfaatkan simbol-simbol ini untuk menyampaikan nilai-nilai Islam, seperti kesucian, kejujuran, dan kepasrahan kepada Tuhan.

Contohnya, dalam primbon Jawa dikenal konsep "manunggaling kawula lan Gusti" (penyatuan manusia dengan Tuhan), yang semula bersifat mistik, lalu diislamkan menjadi konsep tawakal dan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah).

5. Efisiensi Dakwah: Primbon sebagai “Bahasa Lokal”

Setiap dakwah harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mad’u (objek dakwah). Dalam masyarakat Jawa kuno, bahasa agama adalah bahasa primbon. Sunan Gresik memahami bahwa jika ingin diterima, Islam harus disampaikan dalam kerangka budaya yang sudah akrab.

Primbon pun diposisikan sebagai media dakwah bukan kitab suci, tetapi jembatan pengetahuan lokal yang dapat “dibungkus ulang” dengan nilai-nilai Islam. Ini adalah bentuk dakwah bil hikmah (dengan kebijaksanaan) sebagaimana dianjurkan dalam Al-Qur’an (QS. An-Nahl: 125).

6. Peran Sunan Gresik sebagai Pendidik dan Pembaharu

Selain seorang ulama, Sunan Gresik juga dikenal sebagai pendidik dan reformis sosial. Ia mendirikan masjid, pesantren, dan tempat belajar yang mengajarkan ilmu agama Islam sekaligus mengolah kembali budaya lokal seperti gamelan, tembang, seni ukir, dan primbon agar sejalan dengan ajaran Islam.

Ia tidak sekadar menyisipkan Islam dalam primbon, tapi juga menyaring isi primbon yang bertentangan dengan tauhid, kemudian menggantinya dengan konsep-konsep tauhid, syariah, dan akhlak Islami.

Itulah alasan mengapa primbon digunakan oleh Sunan Gresik sebagai media islamisasi. Primbon digunakan oleh Sunan Gresik sebagai media islamisasi karena:

  • Ia adalah bagian dari sistem budaya yang kuat dan tidak bisa dihilangkan begitu saja.
  • Menjadi alat dakwah efektif tanpa memicu konflik budaya.
  • Berfungsi sebagai bahasa simbolik lokal yang bisa diisi ulang dengan ajaran tauhid.
  • Mempermudah transformasi nilai dari spiritualitas animistik ke monoteisme.
  • Memperlihatkan kecerdasan dakwah Wali Songo dalam menyatukan tradisi dan agama.

Dalam konteks ini, penggunaan primbon bukanlah bentuk kompromi terhadap syariat, melainkan strategi transformasi budaya yang cerdas dan beretika, untuk membawa masyarakat dari keyakinan lokal menuju Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

0

Posting Komentar